Thursday, September 07, 2006

Seven Things

Seven Things
7 Things that Scares me :

1. Menghadap Illahi disaat  sebelum sempat bertaubat ( Ya Allah izinkan hamba untuk menghadapMu dalam keadaan Khusnul Khotimah )
2.Allah mencabut Iman dari diri ini ( Semoga Allah tetap memberikan nikmatNya yang satu ini dan aku akan terus berusaha untuk meraihnya )
3. Tetap mengerjakan suatu amalan walau telah tahu amalan itu diharamkan bila melakukannya.

4. Datang rasa Iri, Dengki dan Riya dalam hati ( Lagi-lagi terlambat menyadari kalau rasa ini masih tersembunyi )

5. Kehilangan rasa rindu untuk bersua dengan Illahi Robby.

6. Durhaka pada orang tua.

7. Kehilangan sahabat-sahabatku.

 

7 random Songs at the Moment :

 Lagu Opick "Cukup Bagiku Allah" jujur sewaktu dengar lagu itu air mata gak tertahan lagi. ( Tapi sekarang gak pernah dengar lagu ini lagi dengan sengaja )

 

 

7 Things that I Like Most :

1. Melihat keluarga tersenyum dan rukun selalu.
2. Jika aku bisa berhasil menang melawan hawa nafsu.
3. Melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia terutama orang tuaku.

4. Makan bareng teman-teman dan bisa traktir mereka.
5. Paling suka ke Puncak lihat indahnya pegunungan.
6. Saat bisa kembali membuka mata ini dari tidurku.
7. Tersedia roti dan kopi untuk sarapan pagi.


7 Important things in My Bedroom :

1. Kasur busa ku walau gak pake tempat tidur J
2. Lemari ( Perlu banget nih)
3.Lotion anti nyamuk ( Ga bisa tidur kl ga ada ini )

4. Buku- Buku
5. Kipas Angin ( Kamarnya sempit kl gak ada ini panas banget )
6. Kaligrafi Syahadat.
7. Handphone pluss Alarmnya.

7 random facts about me :

1. Suka banget dengan minuman kopi gak minum sehari bisa pusing dech.
2. Agak sedikit idealis kadang ngerasa begitu.
3. Bisa serius bisa juga santai.
4. Butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
5. Gampang terkejut atau kagetan makanya semua teman2 paling takut ngagetin aku soalnya suka terasa nyeri.
6. Kata orang aku bisa dijadikan tempat curhat walau belum begitu kenal sekalipun( Alhamdulillah kalian percaya sama aku ..Hemm itulah gunanya teman )
7. No tolerance buat teman-teman atau adik yang ngeyel/ bandel. Kalau masih gak berubah jangan harap melihatku berhenti compalain sama kalian.

 

 

 7 Things I said the Most :
1. Bismillah
2. Subhanallah
3. Alhamadulillah
4. La Illaha Illallahu
5. Astagfirullah
6. Insya Allah
7.Syukron & Jazakumullah
8. Afwan ( tambahan kata itu lumayan sering terlontar )

 


7 Things I Plan to do before die :
1. Menikah ( Kalau memang Allah menetapkan untuk Ku didunia ini, kalau pun tidak aku akan tetap menerima yang penting Keep Ikhtiar )
2. Mewujudkan keinginan orang tuaku salah satunya kuliah ( Insya Allah doakan saja Aku tetap berusaha)

3. Belajar Syariat Islam dan menerapkannya dalam hidup.
4. Tinggal dirumah dimana didalamnya terdapat orang-orang yang dimuliakan Allah.
5. Menjadi istri shalihah dari suami yang shalih.
6. Menjadi Ibu dan guru bagi anak-anak yang shalih.
7. Menunaikan seluruh rukun Islam dengan ridha dariNya.

 

7 peoples i want to pass this on to :
Banyak banget gak Cuma 7 orang dan gak bisa disebutkan disini.

 




Make a comment

kakauti @ Thursday, September 07, 2006 04:24 am

_____________

Wednesday, August 09, 2006

Mencari Istri Yang Sempurna

Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba tak sanggup temukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.

Sungguh, di dunia yang maya ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati.

Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah. Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah.

Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum-kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan.

Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun-ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya.

"Selamat pagi, Mawar." Mawar tersenyum, senyum yang menyejukkan.

"Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?"

"Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara."

"Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan  bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda."

"Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini."

"Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali."

"Terimakasih mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini."

Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna.

Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat-coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata-bata hamba berusaha menyusun kata-kata, menuai kalimat-kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi dengan sporadis menelurkan deretan huruf.                   

"Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidaksempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?"

"Mengapa anda menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"

"Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani."

"Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar."

"Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu."

Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.

***

Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia sombongkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi-lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk memulai percakapan.

"Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh."

"Apa yang hendak anda inginkan?"

"Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari."

"Betulkah aku yang anda cari?"

"Ya tentu. Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."

"Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."

"Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan."

"Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba aku bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."

Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh...rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa?

***

Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu! Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung kondor yang rindu bangkai-bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan-angan, bertubi-tubi mulut hamba memukul angin.

Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara, berderinglah sebuah telepon selular yang teronggok di atas sajadah harapan. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara ring tone. Anehnya, suara selular itu tidak lagi menggelayutkan melodi seperti biasanya. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. Kalau tidak salah seperti ini: Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar... Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada nomor tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata.

"Halo, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirah barang sejenak." Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba berimprovisasi. Tapi ketika hamba mau menutup telepon selular, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan dari telepon selular, tapi dari segala penjuru mata angin. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. Mungkinkah doa-doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap sejumput cahaya itu yang bicara Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara.  Suara itu makin keras terdengar. Suara itu berkata seperti ini.

"Betulkah kau mencari istri yang sempurna?" Dengan terbata-bata  hamba bilang,

"Ya...ya..hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?" Suara itu kembali berujar.

"Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaringlah. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening. Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih! Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, cantik rupawan.

"Siapa anda?"

"Hamba  adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Menikahlah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini."
Begitulah kabar hamba kali ini.
Ada lagi yang mau mencari istri sempurna?

 

kiriman dari teman




Make a comment

kakauti @ Wednesday, August 09, 2006 10:06 pm

_____________

Monday, June 19, 2006

Naik Kereta Merah

Huuuh kenapa seh body terasa pegel banget minggu ini, kayak habis kerja rodi aja. Terutama bagian kaki wuih sakitnya terasa sampai ketulang, maklumlah sabtunya diwarnet lumayan rame sih. Plus kejadian malam minggunya yang buat staminaku ngedrop. Sepulang dari warnet aku istirahat sebentar dikamar sambil duduk diatas kasur empuk, plus sentuhan pijatan refleksi karya tangan sendiri buat kakiku yang sedikit bengkak (kebanyakan jalan siih). Keenakan mijat sendiri koq jadi ngantuk yah ..? Wah gawat neeh kalau sampai ketiduran bisa-bisa ketinggalan kereta KRL. Akhirnya dengan terpaksa mata ini dibuat jadi kuat lagi dan langsung diteruskan aksi beres-beres barang yang mau dibawa pulang kerumah.

Ba'da maghrib aku baru berangkat naik Metro Mini menuju Blok M dilanjutkan dengan naik Kopaja jurusan Tanah Abang. Biasanya aku turun distasiun Palmerah tapi kali ini aku sengaja turun distasiun Kebayoran Lama, niatnya sih biar gak tertinggal KRL tapi emang dasar nasib, begitu sampai distasiun ada pengumuman kalau KRL jurusan Sudimara- Serpong gak diberangkatkan (Gubrak lemes deh denger pengumumannya) Masa seeh aku harus naik langsam yang dominan penumpangnya cowok dan berjubal pula (hiks hiks hiks).Tapi apa boleh buat dari pada naik angkot mungkin sekitar jam 11 malam baru bisa sampai rumah. 1 1/2 jam lamanya aku nunggu kedatangan kereta, untung aja bawa buku jadi bisa bacabaca biar gak BT.

Ditengah keramaian suasana veron yang penuh sesak dengan penumpang, aku sempat memperhatikan tingkah beberapa penumpang pada waktu itu. Ada yang menunggu sambil nyanyi-nyanyi, telpon-telpon, bercanda sama pacar(malam minggu neeh) ada juga yang habiskan rokok berbatang-batang.
Aku sendiri asyik baca buku sampai pada akhirnya ada 2 org yang terpaksa membuatku menyudahi bacaan malam itu. Yah 2 org itu adalah sosok bidadari syurga (istilahnya budi neeh) bersama suaminya yang kebetulan duduk tepat didepanku. Duuh akrabnya, bicaranya, candanya mereka bener2 dech buat aku iri aja he3x. Huusssh ngapain seh tie lihat-lihat orang terus..Tuh keretanya dah datang..siap-siap tas taruh didepan badan. Awas Copeeet !!




Make a comment

kakauti @ Monday, June 19, 2006 03:24 am

_____________

Google Modules